http://lppmdianhusada.ac.id/e-journal/index.php/jkk/issue/feedJurnal Keperawatan dan Kebidanan2026-02-07T19:27:25+00:00Eko Agus Cahyonoekoagusdianhusada@gmail.comOpen Journal Systems<p>Publikasi ilmiah hasil penelitian civitas akademika dalam bidang keperawatan dan kebidanan</p>http://lppmdianhusada.ac.id/e-journal/index.php/jkk/article/view/650ANXIETY PADA MAHASISWA PENGGUNA TIKTOK YANG MELAKUKAN SELF DIAGNOSE DI STIKES DIAN HUSADA MOJOKERTO2026-02-01T22:13:58+00:00Vera Virgiadaphnequinn12@gmail.comHerlina Herlinaherlinayasmine@gmail.com<p>Penelitian ini berfokus pada fenomena self-diagnosis, yaitu kecenderungan individu untuk mengidentifikasi dan menetapkan label gangguan kesehatan, khususnya kesehatan mental, berdasarkan pemahaman subjektif yang kerap diperoleh dari konten media sosial seperti TikTok. Di kalangan mahasiswa, paparan berlebihan terhadap informasi kesehatan yang belum terverifikasi melalui platform tersebut dapat memicu respons psikologis yang negatif, termasuk peningkatan kecemasan yang bersifat maladaptif dan sulit dikendalikan. Praktik self-diagnosis berpotensi menimbulkan dampak buruk bagi kesehatan mental, seperti eskalasi kecemasan hingga mencapai tingkat klinis serta memunculkan gejala-gejala depresif. Oleh karena itu, tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengukur tingkat kecemasan pada populasi mahasiswa pengguna TikTok yang terlibat dalam aktivitas self-diagnosis. Metodologi yang diterapkan melibatkan 82 mahasiswa pengguna TikTok sebagai sampel penelitian, dengan menggunakan skala kecemasan terstandar sebagai instrumen pengumpulan data. Analisis data dilakukan dengan pendekatan statistik deskriptif untuk memetakan kondisi variabel. Temuan penelitian mengungkapkan perbedaan signifikan dalam tingkat kecemasan antara responden berdasarkan jenis kelamin, di mana mahasiswa perempuan menunjukkan tingkat kecemasan yang lebih tinggi secara statistik dibandingkan mahasiswa laki-laki. Implikasi dari hasil ini menyoroti pentingnya pendekatan diferensial dalam penanganan kecemasan terkait self-diagnosis. Untuk pengembangan ke depan, kajian mendalam diperlukan dengan memperluas variabel dan indikator penelitian guna mengurai kompleksitas fenomena self-diagnosis secara lebih komprehensif, misalnya dengan mengeksplorasi faktor mediator seperti durasi penggunaan media sosial, tipe konten yang dikonsumsi, serta literasi kesehatan mental</p>2026-02-01T00:00:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan dan Kebidananhttp://lppmdianhusada.ac.id/e-journal/index.php/jkk/article/view/657STUDI KORELASI PERILAKU CYBERBULLYING DENGAN TERJADINYA KECEMASAN SOSIAL PADA REMAJA2026-02-04T10:38:01+00:00Anik Suprianianiksupriani76@gmail.comNanik Nur Rosyidahnaniknur@dianhusada.ac.idNur Chasanahnurcasanah@gmail.com<p>Kecemasan sosial pada remaja akhir, sebagai salah satu gangguan kesehatan mental yang prevalen, diprediksi dipengaruhi secara signifikan oleh paparan terhadap perilaku agresif di ranah digital, khususnya cyberbullying. Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kedua variabel tersebut pada populasi mahasiswa di STIKes Dian Husada Mojokerto. Teknik pengambilan sampel menggunakan simple random sampling dari populasi sebanyak 37 mahasiswa, menghasilkan 34 responden yang memenuhi kriteria. Pengumpulan data dilakukan dengan instrumen terstandar, yakni kuesioner Cyberbullying Victimization untuk mengukur tingkat korbanisasi siber dan Social Anxiety Scale for Adolescent (SAS-A) untuk mengidentifikasi tingkat kecemasan sosial. Hasil deskripsi data menunjukkan bahwa separuh responden (50% atau 17 mahasiswa) mengalami tingkat cyberbullying yang tergolong rendah. Namun, mayoritas responden, yaitu 79,4% (27 mahasiswa), justru berada dalam kategori kecemasan sosial sedang, mengindikasikan potensi kontribusi faktor lain di luar cyberbullying atau adanya sensitivitas tinggi kelompok tersebut terhadap isyarat-isyarat sosial. Analisis inferensial menggunakan uji korelasi Spearman rho membuktikan adanya hubungan yang signifikan antara cyberbullying dan kecemasan sosial pada kelompok sampel. Temuan ini ditunjukkan oleh nilai p-value (Sig. 2-tailed) sebesar 0,035, yang lebih kecil dari tingkat signifikansi alpha 0,05. Dengan demikian, hipotesis penelitian diterima, menyatakan bahwa semakin tinggi paparan atau intensitas pengalaman sebagai korban cyberbullying, maka semakin tinggi pula tingkat kecemasan sosial yang dilaporkan oleh mahasiswa, atau sebaliknya. Berdasarkan temuan ini, penelitian merekomendasikan adanya intervensi kolaboratif yang sistematis. Institusi pendidikan diharapkan dapat membangun sinergi dengan tim layanan kesehatan atau profesional kesehatan mental untuk mengembangkan program edukasi dan pencegahan yang komprehensif. Program tersebut perlu mencakup literasi digital tentang identifikasi, penanganan, dan pelaporan cyberbullying, serta psikoedukasi mengenai mekanisme koping untuk mengelola kecemasan sosial, sehingga dapat menciptakan lingkungan akademik yang lebih sehat dan mendukung kesejahteraan psikologis mahasiswa</p>2026-02-04T10:38:00+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan dan Kebidananhttp://lppmdianhusada.ac.id/e-journal/index.php/jkk/article/view/659PELAYANAN REHABILITASI SOSIAL TERHADAP ORANG DENGAN GANGGUAN JIWA DI YAYASAN PELITA JIWA INSANI2026-02-06T03:01:39+00:00Daulat Tuanku Muhammad Janadaulat.tmj@gmail.comMico Septa Mitracocoseptamitra@gmail.com<p>Gangguan jiwa, sebagaimana didefinisikan sebagai disfungsi dalam domain pikiran, kemauan, emosi, dan perilaku, telah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Etiologinya kompleks, sering kali berakar pada tekanan psikososial yang bersumber dari dinamika internal individu maupun tuntutan eksternal lingkungan. Kesehatan jiwa sendiri dipahami sebagai kondisi di mana individu mampu menikmati kehidupan, menjaga keseimbangan dalam berbagai aktivitas, mengatasi stres dengan mekanisme koping yang adaptif, serta berperilaku secara wajar sesuai norma sosial-budaya setempat. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa banyak Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) mengalami penelantaran, yang secara dominan dipicu oleh keterbatasan pengetahuan keluarga dalam merawat, stigma yang melekat, serta hambatan struktural seperti keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan jiwa akibat faktor ekonomi, distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata, dan rendahnya literasi kesehatan jiwa. Kondisi ini mengakibatkan banyak ODGJ tidak mendapatkan intervensi yang tepat waktu dan berkelanjutan. Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, layanan rehabilitasi sosial menempati posisi kritis dalam pemulihan fungsi sosial ODGJ. Penelitian yang dilakukan di Yayasan Pelita Jiwa Insani mengonfirmasi efektivitas pendekatan ini. Hasil penelitian secara deskriptif mendokumentasikan adanya transformasi perilaku yang signifikan pada klien sebelum dan setelah mengikuti program rehabilitasi sosial yang diimplementasikan oleh yayasan tersebut. Proses layanan yang holistik dan integratif di institusi ini berperan sentral dalam memfasilitasi perubahan tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa intervensi rehabilitasi sosial yang mencakup pelatihan keterampilan hidup, dukungan psikososial, dan reintegrasi sosial tidak hanya menangani gejala tetapi secara substantif memperbaiki kapasitas fungsional dan kualitas hidup ODGJ. Dengan demikian, studi ini memperkuat argumen bahwa upaya penanganan gangguan jiwa di Indonesia memerlukan kolaborasi sinergis antara layanan klinis kesehatan jiwa dan program rehabilitasi sosial yang berkelanjutan untuk mencapai pemulihan yang optimal dan berkelanjutan</p>2026-02-06T03:01:37+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan dan Kebidananhttp://lppmdianhusada.ac.id/e-journal/index.php/jkk/article/view/655PENGARUH PIJAT OKSITOSIN TERHADAP PENINGKATAN PRODUKSI ASI PADA IBU NIFAS di TPMB WILDA SITINDAON2026-02-06T07:42:09+00:00Kristine Evitalokakristineevitaloka83@gmail.comPutri Dewi Anggrainipu_3dewi@gmail.com<p>Permasalahan hipolaktasi atau produksi ASI yang kurang merupakan tantangan klinis yang sering dihadapi ibu nifas dan berpotensi menjadi faktor risiko kegagalan pemberian ASI eksklusif. Sebagai respons terhadap hal ini, pijat oksitosin muncul sebagai intervensi non-farmakologis yang menjanjikan, dengan mekanisme kerja berdasarkan prinsip fisiologis untuk merangsang milk ejection reflex melalui stimulasi pelepasan hormon oksitosin endogen. Penelitian ini dirancang secara kuantitatif dengan desain pre-eksperimental one group pretest-posttest untuk menguji pengaruh spesifik intervensi tersebut. Sebanyak 30 ibu nifas di TPMB Wilda Sitindaon dipilih sebagai sampel melalui purposive sampling dan menerima intervensi pijat oksitosin standar selama tiga hari berturut-turut. Pengukuran objektif menggunakan kuesioner produksi ASI yang divalidasi menunjukkan peningkatan skor mean yang signifikan dari 9,17 pada pretest menjadi 13,37 pada posttest. Analisis statistik non-parametrik menggunakan Uji Wilcoxon Signed Rank Test menghasilkan nilai p = 0,012, yang secara tegas menolak hipotesis nol (H0) pada tingkat signifikansi α = 0,05. Hasil ini memberikan bukti statistik yang kuat bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara produksi ASI sebelum dan sesudah intervensi, sehingga hipotesis penelitian (H1) yang menyatakan adanya pengaruh pijat oksitosin dapat diterima. Temuan statistik yang signifikan tersebut mengindikasikan bahwa pijat oksitosin bukan hanya sekadar terapi pelengkap, tetapi merupakan intervensi yang efektif dalam konteks asuhan kebidanan di komunitas. Peningkatan skor produksi ASI yang melampaui titik tengah skala menuju kategori baik menggambarkan dampak klinis yang relevan. Konsistensi hasil ini didukung oleh literatur sebelumnya yang juga menunjukkan efektivitas stimulasi taktil dalam meningkatkan volume dan kemudahan aliran ASI. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memiliki implikasi praktis yang penting bagi praktik klinis bidan. Pijat oksitosin direkomendasikan untuk diintegrasikan ke dalam protokol standar asuhan nifas, khususnya bagi ibu yang menunjukkan tanda-tanda awal hipolaktasi. Implementasinya memerlukan pelatihan teknis yang memadai bagi tenaga kesehatan untuk memastikan teknik pijat yang benar, serta edukasi yang komprehensif bagi ibu dan keluarga untuk mendukung pelaksanaan mandiri yang rutin. Dengan demikian, intervensi sederhana ini dapat dioptimalkan sebagai salah satu strategi berbasis bukti untuk mengatasi hambatan laktasi dini, memperkuat kepercayaan diri ibu, dan pada akhirnya berkontribusi terhadap peningkatan capaian program ASI eksklusif di tingkat komunitas</p>2026-02-06T07:38:07+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan dan Kebidananhttp://lppmdianhusada.ac.id/e-journal/index.php/jkk/article/view/660PENGEMBANGAN PROTOTIPE ANATOMI PAYUDARA PINTAR (SMART BREAST MODEL) BERBASIS TEKANAN UNTUK SIMULASI PERAWATAN PAYUDARA DAN LAKTASI2026-02-07T19:27:25+00:00Iil Dwi Lactonailmayraqueen@gmail.comLuthfiah Nur Ainiluthfiahnuraini@gmail.comEko Agus Cahyonoekoagusdianhusada@gmail.com<p>Kesenjangan antara teori dan praktik klinis dalam pendidikan kebidanan dan keperawatan maternal, khususnya pada keterampilan kompleks seperti perawatan payudara dan pijat oksitosin, menjadi masalah mendasar yang memerlukan solusi inovatif. Media pembelajaran konvensional berupa model payudara statis dinilai tidak memadai karena tidak mampu memberikan umpan balik fisiologis yang realistis, sehingga mahasiswa kurang percaya diri dan kompeten saat menghadapi pasien nyata. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan menguji fungsi Prototipe Anatomi Payudara Pintar (Smart Breast Model) berbasis tekanan yang dapat mensimulasikan respons let-down reflex melalui tetesan cairan saat ditekan, guna menyediakan media praktikum yang interaktif dan mendekati kondisi klinis sesungguhnya. Penelitian pengembangan ini mengadopsi model Borg & Gall yang disederhanakan dalam sepuluh tahap sistematis, mulai dari studi pendahuluan hingga diseminasi. Hasil validasi oleh ahli materi dan media (N=9) menunjukkan bahwa prototipe mencapai tingkat validitas "Sangat Valid" dengan skor rata-rata 91,1% pada tahap akhir, dimana aspek keselamatan pengguna dan rekomendasi penggunaan meraih nilai sempurna (100%). Uji coba pengguna terhadap mahasiswa dan dosen (N=40) menghasilkan skor usability yang excellent (SUS: 82,5) dan realisme yang tinggi (4,31/5,0), serta peningkatan signifikan secara statistik (p<0,01) pada kompetensi psikomotor mahasiswa. Analisis menunjukkan bahwa keunggulan utama prototipe terletak pada kemampuannya memberikan hubungan sebab-akibat yang jelas antara teknik pijat dan respons fisiologis, sehingga secara efektif menjembatani kesenjangan teori-praktik. Pembahasan mengonfirmasi bahwa prototipe yang dihasilkan tidak hanya layak dan dapat diterima, tetapi juga lebih efektif dibanding model konvensional. Meskipun demikian, aspek kemudahan pemeliharaan dan realisme tekstur masih memerlukan penyempurnaan pada pengembangan selanjutnya. Secara keseluruhan, penelitian ini berhasil menghasilkan sebuah invensi pendidikan yang siap implementasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran keterampilan klinis maternal</p>2026-02-07T19:27:24+00:00Copyright (c) 2026 Jurnal Keperawatan dan Kebidanan